The world of DotA

The world of Dota (Defense of the Ancients) is more than you know, it's the way of the warrior.

Amigos

No Way Out

Live Love Laughs

Happy people, happy live, happy future.

Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tugas. Tampilkan semua postingan

Selasa, 26 Juni 2012

“Metode Penelitian Pendidikan”

Resume buku
“Metode Penelitian Pendidikan”
Prof. Dr. Nana Syaodih sukmadinata

I.                     Makna Penelitian
Penelitian adalah suatu proses pengumpulan data yang dilakukan secara sistematis dan logis untuk mencapai tujuan-tujuan tertentu.
Penelitian diperlukan karena adanya 4 latar belakang yang diketahui sbb :
1.      Karena pengetahuan, pemahaman dan kemampuan manusia sangat terbatas dibanding dengan lingkunganya yang luas. Sehingga banyak hal yang tidak diketahui , tidak dipahami dan tidak jelas dan menimbulkan banyak keraguan dan pertanyaan bagi dirinya.
2.      Manusia memiliki dorongan untuk mengetahui atau curiousity. Manusia selalu bertanya , apa itu, bagaimana dan mengapa. Bagi sebagian orang jawaban sederhana dan sepintas mungkin sudah memberikan kepuasan, tetapi bagi orang-orang tertentu seperti ilmuwan dibutuhkan jawaban yang lebih mendalam, rinci dan komperhensif.
3.      Manusia membutuhkan penjelasan, pemecehan, dan penyelesaian untuk setiap masalah, tantangan, kesulitan dan ancaman yang dihadapinya.
4.      Manusia selalu tidak merasa puas dengan segala yang diraihnya, dia akan selalu berusaha untuk lebih sempurna dan ingin menambah kekayaannya dalam berbagai bidang.

Langkah- langkah pencarian ilmiah :
1.      Identifikasi masalah
2.      Perumusan dan pembatasan masalah
3.      Perumusan hipotesis
4.      Pengumpulan data
5.      Pengujian hipotesis
6.      Penarikan kesimpulan

Jenis penelitian berdasarakan tujuannya :
1.      Penelitian desktiptif : untuk mendeskripsikan keadaan atau fenomena-fenomena apa adanya.
2.      Penelitian prediktif : untuk memprediksi atau memperkirakan apa yang akan terjadi atau berlangsung pada saat yang akan datang berdasarkan hasil analisis keadaan saat ini.
3.      Penelitian improftif : untuk mempertbaiki , meningkatakan atau menyempurnakan suatu keadaan , kegiatan , atau pelaksanaan suatu program.
4.      Penelitian eksplanatif : memberikan penjelasan tentang hubungan antar fenomena atau variabel.


II.                  Ruang lingkup penelitian pendidikan

1.      Komponen-komponen Proses Pendidikan
-          Interaksi pendidikan : interaksi antara peserta didik dengan pendidik dan sumber-sumber pendidikan tersebut dapat berlangsung dalam situasi pergaulan (pendidikan) , pengajaran, latihan, serta bimbingan. Segi afektif yang perlu dikembangkan antara lain : nilai-nilai,  sikap, minat, motivasi, disiplin diri, kebiasaan , dll.

2.      Tujuan pendidikan
Sasaran dan perbuatan pendidikan selalu normatif, selalu terarah kepada yang baik. Perbuatan pendidikan selalu diarahkan kepada kemaslahatan dan kesejahteraan peserta didik dan masyarakat. Karena tujuannya positif maka proses pendidikanya juga harus selalu positif, konstruktif dan normatif.

3.      Lingkungan pendidikan
Pendidikan dalam lingkungan masyarakat lebih bersifat terbuka . bahan yang dipelajati dapat mencakup seluruh aspek kehidupan, dengan sumber belajarnya yang ada di lingkunganya.

4.      Pergaulan pendidikan
Proses pengembangan berlangsung secara informal, alamiah, dan mungkin juga tidak disadari, walaupn dari sisi pendidik seharusnya selalu disadari. Proses pendidikan dalam situasi pergaulan berlangsung melalui percontohan.

Landasan dan perbuatan
Landasan psikologis dalam interkasi pendidikan berinteraksi dua individu yang masing-masing memilki kemampuan dan karakteristik sendiri.sesungguhnya kedua pihak harus saling memahami dan menyesuaikan diri.

            Pendidikan berlangsung dalam pergaulan secara formal ataupun nonformal. Pergaulan yang bersifat mendidik didasari oleh pemahaman landasan psikologis, perkembangan dan keanekaragaman karakteristik siswa. Pendidikan dilaksanakan dalam bentuk pengajaran, pelatihan dan bimbingan. Proses pendidikan dirancang dalam kurikulum-pembelajaran, bimbingan-konseling, dan manajemen pendidikan didasari oleh teori. Penelitian bidang pendidikan mencakup penelitian segi teoritis maupun praktis, teori dan praktik pengembangan , perencanaan dan implementasi kurikulum, pembelajaran, bimbingan dan konseling serta pengelolaan pendidikan.




III.                Pendekatan dan Metode Penelitian

Konsep dan Macam-macam Metode Penelitian
Penelitian pada dasarnya merupakan suatu pencarian (inquiry) menghimpun data, mengadakan pengukuran, analisis, sintesis, membandingkan, mencari hubungan, menafsirkan hal-hal yang bersifat teka-teki.tujuannya dari rancangan penelitian adalah melalui penggunaan metode penelitian yang tepat, dirancang kegiatan yang dapat memberikan jawaban yang teliti terhadap pertanyaan-pertanyaan penelitian.

Penelitian Kuantitatif
Penelitian kuantitatif didasari oleh filsafat positivisme yang menekankan fenomena-fenomena objektif dan dikaji secara kuantitatif. Maksimalisasi desain penelitian ini dilakukan dengan menggunakan angka-angka, pengolahan statistik, struktur dan percobaan terkontrol. Ada beberapa metode penelitian yang dapat dimasukan ke dalam penelitian kuantitatif yang bersifat noneksperimental, yaitu metode : deskriptif, survei, eksposfakto, komparatif, korelasional dan penelitian tindakan.

Penelitian Eksperimental
Penelitian eksperimental merupakan penelitian yang paling murni kuantitatif, karena semua prinsip dan kaidah-kaidah penelitian kuantitatif dapat diterapkan pada metode ini. Karena penelitian ini bersifat mengiuji, maka semua variabel yang diuji harus diukur dengan menggunakan instrumen pengukuran atau tes yang sudah distandardisasikan atau dibakukan.pembakuan instrumen dan pengolahan hasil penelitian diolah dengan menggunakan analisis statistik inferensial-parametik. Untuk menguji apakah perubahan yang terjadi pada variabel terikat itu akibat dari perubahan pada variabel bebas, dan bukan karena variabel-variabel lainnya, maka semua variabel dilakukan dengan menyamakan karakteristik sampel dalam variabel-variabel tersebut.

Penelitian Kualitatif
Adalah penelitia yang ditujukan untuk mendeskripsikan dan menganalisis fenomena, peristiwa, aktivitas sosial, sikap, kepercayaan, persepsi, pemikiran irang secara individual atau kelompok. Penelitian kualitatif bertolak dari pandangan Positivisme. Penelitian kualitatif berangkat dari filsafat kostruktivisme, yang memandang kenyataan itu berdimensi jamak, interaktif dan menuntut interpretasi berdasarkan pengalaman sosial.
Metode kualitatif secara garis besar dibedakan menjadi dua macam :
1.      Kualitatif interaktif
            Merupakan studi yang menggunakan teknik pengumpulan data langsung dari orang dalam lingkungan alamiahnya. Peneliti menginterpretasikan fenomena-fenomena bagaimana orang mencari makna daripadanya. Para peneliti membuat suatu gambaran yang kompleks, dan menyeluruh dengan deskripsi detil dari kacamata para informan.

2.      Non interaktif
            Disebut juga penelitian analitis, merupakan pengkajian berdasarkan analisis dokumen. Peneliti menghimpun, mengidentifikasi, menganalisis, dan mengadakan sintesis data, untuk kemudian memberikan interpretasi terhadap konsep, kebijakan, peristiwa yang secara langsung atapun tidak langsung dapat diamati.

           
IV.                Metode Deskriptif dan Survei

Penelitian Deskriptif
Adalah suatu bentuk penelitian yang paling dasar. Ditujukan untuk mendeskripsikan atau menggambarkan fenomena-fenomena yang ada, baik fenomena yang bersifat alamiah ataupun rekayasa manusia. Penelitian ini mengkaji bentuk aktivitas, karakteristik, perubahan, hubungan, kesamaan dan perbedaanya dengan fenomena lain. Dalam penelitian deskriptif , peneliti tidak melakukan manipulasi atau memberikan perlakuan-perlakuan tertentu terhadap variabel atau merancang sesuatu yang diharapkan terjadi pada variabel, tetapi semua kegiatan, keadaan, kejadian, aspek komponen atau variabel berjalan sebagaimana adanya. Tanpa penelitian pun semua kegiatan , keadaan, kejadian, komponen variabel berjalan seperti itu.

·         Penelitian Deskriptif untuk memecahkan masalah
Ada beberapa jenis informasi yang bisa diperoleh melalui penelitian deskiriptif bagi pemecah masalah :
1.      Informasi tentang keadaan saat ini (present condition). Bagaimana keadaan kita sekarang? Apa yang kita lakukan? dll.
2.      Informasi yang kita inginkan (what we may want ). Apa yang ingin kita capai , apa tujuan dan sasaran kita. Penelitian ini dilakukan untuk menghimpun informasi tentang tuntutan atau tantangan yang kita hadapi, kebutuhan yang dirasakan, kekurangna yang dialami, dll.
3.      Bagaimana sampai kesana dan mencapainya (how to get there). Informasi yang dikumpulkan adalah pengalaman orang lain yang mengalami atau menghadapi tuntutan dan kebutuhan yang sama.



Survei
Survei digunakan untuk mengumpulkan data atau informasi tentang populasi yang besar dengan menggunakan sampel yang relatif kecil. Populasi tersebut bisa berkenaan dengan orang, instansi, lembaga, organisasi, unit-unit kemasyarakatan, dll. Tetapi sumber utamanya adalah orang.
Ada tiga karakteristik utama dalam survei :
1.      Informasi dikumpulkan dari sekelompok besar orang untuk mendeskripsikan beberapa aspek atau karakteristik tertentu seperti : kemampuan, sikap, kepercayaan, pengetahuan, dan populasi.
2.      Informasi dikumpulkan melalui pengajuan pertanyaan (lisan atau tulisan) dari suatu populasi
3.      Informasi diperoleh dari sampel, bukan dari populasi.

Pengumpulan Data Survei
Pengumpulan data dalam survei dapat dilakukan melalui beberapa cara seperti wawancara dan pemberian angket kepada kelompok secara langsung.
Langkah-langkah survei antara lain :
1.      Merumsukan tujuan umum dan khusus
2.      Memilih sumber dan populasi target
3.      Pemilihan teknik dan pengembangan instrumen pengumpulan data
4.      Petunjuk pengisian
5.      Penentuan sampel
6.      Pembuatan alamat
7.      Uji coba
8.      Tidak lengkap dan tidak mengembalikan
9.      Tindak lanjut

Upaya peningkatan Kualitas Pendidik PAUD dalam rangka mempersiapkan Anak menuju jenjang Pendidikan Dasar

A.    JUDUL
Upaya peningkatan Kualitas Pendidik PAUD dalam rangka mempersiapkan Anak menuju jenjang Pendidikan Dasar


B.     LATAR BELAKANG

Sesuai dengan Peraturan Menteri pendidikan Nasional Nomor 8 tahun 2005. Direktorat Pendidik dan Tenaga Kependidikan Pendidikan Nonformal (Dit PTK-PNF) Ditjen Peningkatan Mutu Pendidik dan Tenaga Kependidikan (Ditjen PMPTK) mempunyai tugas untuk membina pendidik dan tenaga kependidikan pendidikan nonformal agar memiliki kompetensi (pedagogi, keperibadian,social dan profesional) yang sesuai dengan peraturan pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 tentang standar Nasional Pendidikan

Pendidikan Anak Usia Dini sebagai jenjang pendidikan yang sangat penting dalam mempersiapkan anak untuk mengikuti pendidikan dasar.oleh karena itu pendidiknya perlu disiapkan secara baik dalam pelaksanaan diklat peningkatan mutu bagi pendidik PAUD. Sebagai salahsatu misi Dit PTK-PNF yaitu memperluas akses, pemerataan peningkatan mutu PTK-PNF, dan mendukung peningkatan mutu layanan yang relevan dengan tuntutan masyarakat dalam upaya peningkatan mutu dan layanan terhadap pendidik PNF dilakukan melalui berbagai diklat. Kegiatan diklat dilakukan mulai dari tingkat pusat hingga propinsi dan Kabupaten/kota.

Agar pelaksanaan diklat yang dilaksanakan di propinsi/kabupaten/kota dapat terkendali baik yang dilaksanakan oleh BP-PNFI/BPKB/SKB maka perlu  adanya pedoman standart diklat pendidik PAUD. Sehingga dapat diketahui secara umum sampai sejauhmana perkembangan pendidik PAUD dalam mengikuti diklat.

Seperti kita ketahui bahwa pendidik PAUD yang meliputi  pendidik PAUD dari Taman Penitipan anak, Kelompok bermain,dan satuan PAUD sejenis.Sangat diharapkan bahwa pendidik PAUD dapat berusaha mengikuti tuntutan kebutuhan dan perkembangan masyarakat, sehingga keberadaannya benar-benar dapat memberikan layanan PAUD yang bermutu bagi masayarakat.



  
C.     RUMUSAN MASALAH

1.      -Apa pengertian dari Pendidikan Anak Usia Dini dan kualitas pendidiknya saat ini ?
2.     -Bagaimana teknik dan tata cara dalam meningkatkan pembelajaran yang baik pada Pendidikan Anak Usia Dini ?


D.    KEGUNAAN

Tujuan dari pembuatan makalah ini :
1.      Meningkatkan kualitas pendidik PAUD ke jenjang yang lebih tinggi dengan memperbaiki metode dan teknik yang digunakan pendidik PAUD saat ini.
2.      Mempersiapkan calon pendidik – pendidik PAUD berikutnya dengan skill yang lebih baik.


E.     KAJIAN PUSTAKA

Pendidikan anak usia dini (PAUD) adalah jenjang pendidikan sebelum jenjang pendidikan dasar yang merupakan suatu upaya pembinaan yang ditujukan bagi anak sejak lahir sampai dengan usia enam tahun yang dilakukan melalui pemberian rangsangan pendidikan untuk membantu pertumbuhan dan perkembangan jasmani dan rohani agar anak memiliki kesiapan dalam memasuki pendidikan lebih lanjut, yang diselenggarakan pada jalur formal, nonformal, dan informal.
Pendidikan anak usia dini merupakan salah satu bentuk penyelenggaraan pendidikan yang menitikberatkan pada peletakan dasar ke arah pertumbuhan dan perkembangan fisik (koordinasi motorik halus dan kasar), kecerdasan (daya pikir, daya cipta, kecerdasan emosi, kecerdasan spiritual), sosio emosional (sikap dan perilaku serta agama) bahasa dan komunikasi, sesuai dengan keunikan dan tahap-tahap perkembangan yang dilalui oleh anak usia dini.
Ada dua tujuan diselenggarakannya pendidikan anak usia dini yaitu:
* Tujuan utama: untuk membentuk anak Indonesia yang berkualitas, yaitu anak yang tumbuh dan berkembang sesuai dengan tingkat perkembangannya sehingga memiliki kesiapan yang optimal di dalam memasuki pendidikan dasar serta mengarungi kehidupan di masa dewasa.
* Tujuan penyerta: untuk membantu menyiapkan anak mencapai kesiapan belajar (akademik) di sekolah.
Untuk itu anak – anak ini masih sangat rentan waktunya dalam menerima pembelajaran sehingga dibutuhkan kualitas pendidikan yang mumpuni yang mampu memberikan pendidikan pengantar mereka ke jenjang pendidikan dasar. Untuk itu dibutuhkan pendidik yang bukan sekadar lulusan setara sma ataupun setinggi D3 yang ada kebanyakan saat ini, untuk itu mereka perlu di-improve kualitasnya ke jenjang yang lebih tinggi yakni minimal pendidikan D4 atau S1, yang kini programnya sedang dicanangkan oleh pemerintah.

Seperti yang dilakukan Fonterra Brands Indonesia bersama dengan ChildFund Indonesia meneguhkan komitmennya dalam upaya meningkatkan kualitas pendidikan anak usia dini di wilayah yang kurang beruntung lewat program ENHANCE (Ensuring Nutrition, Health, and Children's Education). Program ini sudah berjalan di DKI Jakarta, Semarang, Banyumas, Boyolali, dan Wonogiri. Sementara itu fokus dari program ENHANCE adalah membantu mengembangkan keahlian dan kemampuan tenaga pengajar serta pembimbing PAUD. Kendati begitu program perbaikan gedung dan fasilitas pos PAUD juga dilakukan.

Idealnya guru atau pembimbing PAUD adalah lulusan D4 atau S1, tetapi kalau harus menunggu sekarang sudah terlambat karena 32juta anak berusia dini perlu saat ini. Oleh karena itu secara bertahap dilakukan peningkatkan kualifikasi pembimbing PAUD saat ini. (Sukiman, Kasubdit program dan evaluasi direktorat pembinaan PAUD, Kementrian Pendidikan dan Kebudayaan).

Upaya lainnya dalam meningkatkan kualitas pendidik adalah seorang pendidik harus memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai pembelajaran, sehat jasmani dan rohani serta memiliki kemampuan untuk mewujudkan tujuan pendidikan nasional. Kompetensi tersebut meliputi :
1.      Kompetensi paedagogik (kemampuan yang berkenaan dengan pemahaman peserta didik dan pengelolaan pembelajaran yang partisipatif dan logis).
2.      Kompetensi kepribadian (kemampuan pribadi yang mantap, stabil, dewasa, arif dan berwibawa, serta baerakhlak mulia yang menjadi teladan bagi peserta didik.)
3.      Kompetensi social adalah kemampuan pendidik sebagai bagian dari masyarakat untuk berkomunikasi dan bergaul secara efektif dengan peserta didik.)
4.      Kompetensi Profesional (merupakan kemampuan penguasaan materi secara luas dan mendalam.)

F.      METODOLOGI

Metode yang digunakan adalah metode kualitatif melalui wawancara tentang kompetensi pendidikan nasional.



G.    DAFTAR PUSTAKA


Selasa, 08 Mei 2012

Filsafat, Cabang-Cabang dan Aliran-Alirannya


Arti filsafat

Apakah filsafat itu? Bagaimana definisinya? Demikianlah pertanyaan pertama yang kita hadapi tatkala akan mempelajari ilmu filsafat. Istilah “filsafat” dapat ditinjau dari dua segi, yakni:
  • Segi semantik: perkataan filsafat berasal dari bahasa Arab ‘falsafah’, yang berasal dari bahasa Yunani, ‘philosophia’, yang berarti ‘philos’ = cinta, suka (loving), dan ‘sophia’ = pengetahuan, hikmah (wisdom). Jadi ‘philosophia’ berarti cinta kepada kebijaksanaan atau cinta kepada kebenaran. Maksudnya, setiap orang yang berfilsafat akan menjadi bijaksana. Orang yang cinta kepada pengetahuan disebut ‘philosopher’, dalam bahasa Arabnya ‘failasuf”. Pecinta pengetahuan ialah orang yang menjadikan pengetahuan sebagai tujuan hidupnya, atau perkataan lain, mengabdikan dirinya kepada pengetahuan.
  • Segi praktis : dilihat dari pengertian praktisnya, filsafat berarti ‘alam pikiran’ atau ‘alam berpikir’. Berfilsafat artinya berpikir. Namun tidak semua berpikir bererti berfilsafat. Berfilsafat adalah berpikir secara mendalam dan sungguh-sungguh. Sebuah semboyan mengatakan bahwa “setiap manusia adalah filsuf”. Semboyan ini benar juga, sebab semua manusia berpikir. Akan tetapi secara umum semboyan itu tidak benar, sebab tidak semua manusia yang berpikir adalah filsuf. Filsuf hanyalah orang yang memikirkan hakikat segala sesuatu dengan sungguh-sungguh dan mendalam.
Tegasnya: Filsafat adalah hasil akal seorang manusia yang mencari dan memikirkan suatu kebenaran dengan sedalam-dalamnya. Dengan kata lain: Filsafat adalah ilmu yang mempelajari dengan sungguh-sungguh hakikat kebenaran segala sesuatu.
Beberapa definisi
Karena luasnya lingkungan pembahasan ilmu filsafat, maka tidak mustahil kalau banyak di antara para filsafat memberikan definisinya secara berbeda-beda. Coba perhatikan definisi-definisi ilmu filsafat dari filsuf Barat dan Timur di bawah ini:
  1. Plato (427SM – 347SM) seorang filsuf Yunani yang termasyhur murid Socrates dan guru Aristoteles, mengatakan: Filsafat adalah pengetahuan tentang segala yang ada (ilmu pengetahuan yang berminat mencapai kebenaran yang asli).
  2. Aristoteles (384 SM – 322SM) mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan yang meliputi kebenaran, yang di dalamnya terkandung ilmu-ilmu metafisika, logika, retorika, etika, ekonomi, politik, dan estetika (filsafat menyelidiki sebab dan asas segala benda).
  3. Marcus Tullius Cicero (106 SM – 43SM) politikus dan ahli pidato Romawi, merumuskan: Filsafat adalah pengetahuan tentang sesuatu yang mahaagung dan usaha-usaha untuk mencapainya.
  4. Al-Farabi (meninggal 950M), filsuf Muslim terbesar sebelum Ibnu Sina, mengatakan : Filsafat adalah ilmu pengetahuan tentang alam maujud dan bertujuan menyelidiki hakikat yang sebenarnya.
5.      Immanuel Kant (1724 -1804), yang sering disebut raksasa pikir Barat, mengatakan : Filsafat itu ilmu pokok dan pangkal segala pengetahuan yang mencakup di dalamnya empat persoalan, yaitu:
  • Apakah yang dapat kita ketahui? (dijawab oleh metafisika)
  • Apakah yang dapat kita kerjakan? (dijawab oleh etika)
  • Sampai di manakah pengharapan kita? (dijawab oleh antropologi)
1.      Prof. Dr. Fuad Hasan, guru besar psikologi UI, menyimpulkan: Filsafat adalah suatu ikhtiar untuk berpikir radikal, artinya mulai dari radiksnya suatu gejala, dari akarnya suatu hal yang hendak dimasalahkan. Dan dengan jalan penjajakan yang radikal itu filsafat berusaha untuk sampai kepada kesimpulan-kesimpulan yang universal.
2.      Drs H. Hasbullah Bakry merumuskan: ilmu filsafat adalah ilmu yang menyelidiki segala sesuatu dengan mendalam mengenai ketuhanan, alam semesta dan manusia, sehingga dapat menghasilkan pengetahuan tentang bagaimana hakikatnya sejauh yang dapat dicapai oleh akal manusia, dan bagaimana sikap manusia itu seharusnya setelah mencapai pengetahuan itu.
Setelah mempelajari rumusan-rumusan tersebut di atas dapatlah disimpulkan bahwa:
  1. Filsafat adalah ‘ilmu istimewa’ yang mencoba menjawab masalah-masalah yang tidak dapat dijawab oleh ilmu pengetahuan biasa karena masalah-masalah tersebut di luar jangkauan ilmu pengetahuan biasa.
2.      Filsafat adalah hasil daya upaya manusia dengan akal budinya untuk memahami atau mendalami secara radikal dan integral serta sistematis hakikat sarwa yang ada, yaitu:
  • Hakikat Tuhan,
  • Hakikat alam semesta, dan
  • Hakikat manusia,
serta sikap manusia sebagai konsekuensi dari paham tersebut. Perlu ditambah bahwa definisi-definisi itu sebenarnya tidak bertentangan, hanya cara mengesahkannya saja yang berbeda.

Cabang-cabang filsafat

Telah kita ketahui bahwa filsafat adalah sebagai induk yang mencakup semua ilmu khusus. Akan tetapi, dalam perkembangan selanjutnya ilmu-ilmu khusus itu satu demi satu memisahkan diri dari induknya, filsafat. Mula-mula matematika dan fisika melepaskan diri, kemudian diikuti oleh ilmu-ilmu lain. Adapun psikologi baru pada akhir-akhir ini melepaskan diri dari filsafat, bahkan di beberapa insitut, psikologi masih terpaut dengan filsafat.
Setelah filsafat ditinggalkan oleh ilmu-ilmu khusus, ternyata ia tidak mati, tetapi hidup dengan corak baru sebagai ‘ilmu istimewa’ yang memecahkan masalah yang tidak terpecahkan oleh ilmu-ilmu khusus. Yang menjadi pertanyaan ialah : apa sajakah yang masih merupakan bagian dari filsafat dalam coraknya yang baru ini? Persoalan ini membawa kita kepada pembicaraan tentang cabang-cabang filsafat.
Ahli filsafat biasanya mempunyai pembagian yang berbeda-beda. Coba perhatikan sarjana-sarjana filsafat di bawah ini:
1. H. De Vos menggolongkan filsafat sebagai berikut:
” metafisika,
” logika,
” ajaran tentang ilmu pengetahuan
” filsafat alam
” filsafat sejarah
” etika,
” estetika, dan
” antropologi.
2. Prof. Albuerey Castell membagi masalah-masalah filsafat menjadi enam bagian, yaitu:
” masalah teologis
” masalah metafisika
” masalah epistomologi
” masalah etika
” masalah politik, dan
” masalah sejarah
3 Dr. Richard H. Popkin dan Dr Avrum Astroll dalam buku mereka, Philosophy Made Simple, membagi pembahasan mereka ke dalam tujuh bagian, yaitu:
” Section I Ethics
” Section II Political Philosophy
” Section III Metaphysics
” Section IV Philosophy of Religion
” Section V Theory of Knowledge
” Section VI Logics
” Section VII Contemporary Philosophy,
4. Dr. M. J. Langeveld mengatakan: Filsafat adalah ilmu Kesatuan yang terdiri atas tiga lingkungan masalah:
” lingkungan masalah keadaan (metafisika manusia, alam dan seterusnya)
” lingkungan masalah pengetahuan (teori kebenaran, teori pengetahuan, logika)
” lingkungan masalah nilai (teori nilai etika, estetika yangb ernilai berdasarkan religi)
5. Aristoteles, murid Plato, mengadakan pembagian secara kongkret dan sistematis menjadi empat cabang, yaitu:
a) Logika. Ilmu ini dianggap sebagai ilmu pendahuluan bagi filsafat.
b) Filsafat teoretis. Cabang ini mencangkup:
” ilmu fisika yang mempersoalkan dunia materi dari alam nyata ini,
” ilmu matematika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu dalam      kuantitasnya,
” ilmu metafisika yang mempersoalkan hakikat segala sesuatu. Inilah yang      paling utama dari filsafat.
c) Filsafat praktis. Cabang ini mencakup:
” ilmu etika. yang mengatur kesusilaan dan kebahagiaan dalam hidup     perseorang
” ilmu ekonomi, yang mengatur kesusilaan dan kemakmuran di dalam negara.
d) Filsafat poetika (Kesenian).
Pembagian Aristoteles ini merupakan permulaan yang baik sekali bagi perkembangan pelajaran filsafat sebagai suatu ilmu yang dapat dipelajari secara teratur. Ajaran Aristoteles sendiri, terutama ilmu logika, hingga sekarang masih menjadi contoh-contoh filsafat klasik yang dikagumi dan dipergunakan.
Walaupun pembagian ahli yang satu tidak sama dengan pembagian ahli-ahli lainnya, kita melihat lebih banyak persamaan daripada perbedaan. Dari pandangan para ahli tersebut di atas dapat disimpulkan bahwa filsafat dalam coraknya yang baru ini mempunyai beberapa cabang, yaitu metafisika, logika, etika, estetika, epistemologi, dan filsafat-filsafat khusus lainnya.
  1. Metafisika: filsafat tentang hakikat yang ada di balik fisika, hakikat yang bersifat transenden, di luar jangkauan pengalaman manusia.
  2. Logika: filsafat tentang pikiran yang benar dan yang salah.
  3. Etika: filsafat tentang perilaku yang baik dan yang buruk.
  4. Estetika: filsafat tentang kreasi yang indah dan yang jelek.
  5. Epistomologi: filsafat tentang ilmu pengetahuan.
  6. Filsafat-filsafat khusus lainnya: filsafat agama, filsafat manusia, filsafat hukum, filsafat sejarah, filsafat alam, filsafat pendidikan, dan    sebagainya.
Seperti telah dikatakan, ilmu filsafat itu sangat luas lapangan pembahasannya. Yang ditujunya ialah mencari hakihat kebenaran dari segala sesuatu, baik dalam kebenaran berpikir (logika), berperilaku (etika), maupun dalam mencari hakikat atau keaslian (metafisika). Maka persoalannya menjadi apakah sesuatu itu hakiki (asli) atau palsu (maya).
Dari tinjauan di atas kita dapat mengambil kesimpulan bahwa dalam tiap-tiap pembagian sejak zaman Aristoteles hingga dewasa ini lapangan-lapangan yang paling utama dalam ilmu filsafat selalu berputar di sekitar logika, metafisika, dan etika.

Tujuan, fungsi dan manfaat filsafat

Menurut Harold H. Titus, filsafat adalah suatu usaha memahami alam semesta, maknanya dan nilainya. Apabila tujuan ilmu adalah kontrol, dan tujuan seni adalah kreativitas, kesempurnaan, bentuk keindahan komunikasi dan ekspresi, maka tujuan filsafat adalah pengertian dan kebijaksanaan (understanding and wisdom).
Dr Oemar A. Hoesin mengatakan: Ilmu memberi kepada kita pengatahuan, dan filsafat memberikan hikmah. Filsafat memberikan kepuasan kepada keinginan manusia akan pengetahuan yang tersusun dengan tertib, akan kebenaran.
S. Takdir Alisyahbana menulis dalam bukunya: filsafat itu dapat memberikan ketenangan pikiran dan kemantapan hati, sekalipun menghadapi maut. Dalam tujuannya yang tunggal (yaitu kebenaran) itulah letaknya kebesaran, kemuliaan, malahan kebangsawanan filsafat di antara kerja manusia yang lain. Kebenaran dalam arti yang sedalam-dalamnya dan seluas-luasnya baginya, itulah tujuan yang tertinggi dan satu-satunya. Bagi manusia, berfilsafat itu bererti mengatur hidupnya seinsaf-insafnya, senetral-netralnya dengan perasaan tanggung jawab, yakni tanggung jawab terhadap dasar hidup yang sedalam-dalamnya, baik Tuhan, alam, atau pun kebenaran.
Radhakrishnan dalam bukunya, History of Philosophy, menyebutkan: Tugas filsafat bukanlah sekadar mencerminkan semangat masa ketika kita hidup, melainkan membimbingnya maju. Fungsi filsafat adalah kreatif, menetapkan nilai, menetapkan tujuan, menentukan arah dan menuntun pada jalan baru. Filsafat hendaknya mengilhamkan keyakinan kepada kita untuk menompang dunia baru, mencetak manusia-manusia yang menjadikan penggolongan-penggolongan berdasarkan ‘nation’, ras, dan keyakinan keagamaan mengabdi kepada cita mulia kemanusiaan. Filsafat tidak ada artinya sama sekali apabila tidak universal, baik dalam ruang lingkupnya maupun dalam semangatnya.
Studi filsafat harus membantu orang-orang untuk membangun keyakinan keagamaan atas dasar yang matang secara intelektual. Filsafat dapat mendukung kepercayaan keagamaan seseorang, asal saja kepercayaan tersebut tidak bergantung pada konsepsi prailmiah yang usang, yang sempit dan yang dogmatis. Urusan (concerns) utama agama ialah harmoni, pengaturan, ikatan, pengabdian, perdamaian, kejujuran, pembebasan, dan Tuhan.
Berbeda dengan pendapat Soemadi Soerjabrata, yaitu mempelajari filsafat adalah untuk mempertajamkan pikiran, maka H. De Vos berpendapat bahwa filsafat tidak hanya cukup diketahui, tetapi harus dipraktekkan dalam hidup sehari-sehari. Orang mengharapkan bahwa filsafat akan memberikan kepadanya dasar-dasar pengetahuan, yang dibutuhkan untuk hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup secara baik. Filsafat harus mengajar manusia, bagaimana ia harus hidup agar dapat menjadi manusia yang baik dan bahagia.
Dari uraian di atas dapat disimpulkan bahwa tujuan filsafat adalah mencari hakikat kebenaran sesuatu, baik dalam logika (kebenaran berpikir), etika (berperilaku), maupun metafisik (hakikat keaslian).

Aliran-aliran dalam filsafat

Aliran-aliran yang terdapat dalam filsafat sangat banyak dan kompleks. Di bawah ini akan kita bicarakan aliran metafisika, aliran etika, dan aliran-aliran teori pengetahuan.

a. Aliran-aliran metafisika
Menurut Prof. S. Takdir Alisyahbana, metafisika ini dibagi menjadi dua golongan besar, yaitu : (1) yang mengenai kuantitas (jumlah) dan (2) yang mengenai kualitas (sifat).Yang mengenai kuantitas terdiri atas (a)monisme, (b) dualisme, dan (c) pluralisme. Monisme adalah aliran yang mengemukakan bahwa unsur pokok segala yang ada ini adalah esa (satu). Menurut Thales: air menurut Anaximandros: ‘apeiron’ menurut Anaximenes: udara. Dualisme adalah aliran yang berpendirian bahwa unsur pokok sarwa yang ada ini ada dua, yaitu roh dan benda. Pluralisme adalah aliran yang berpendapat bahwa unsur pokok hakikat kenyataan ini banyak. Menurut Empedokles: udara, api, air dan tanah.
Yang mengenai kualitas dibagi juga menjadi dua bagian besar, yakni (a) yang melihat hakikat kenyataan itu tetap, dan (b) yang melihat hakikat kenyataan itu sebagai kejadian.
Yang termasuk golongan pertama (tetap) ialah:
” Spiritualisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat roh.
” Materialisme, yakni aliran yang berpendapat bahwa hakikat itu bersifat   materi.
Yang termasuk golongan kedua (kejadian) ialah:
” Mekanisme, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian di dunia ini berlaku dengan sendirinya menurut hukum sebab-akibat.
” Aliran teleologi, yakni aliran yang berkeyakinan bahwa kejadian yang   satu berhubungan dengan kejadian yang lain, bukan oleh hukum sebab-akibat,   melainkan semata-mata oleh tujuan yang sama.
” Determinisme, yaitu aliran yang mengajarkan bahwa kemauan manusia itu   tidak merdeka dalam mengambil putusan-putusan yang penting, tetapi sudah   terpasti lebih dahulu.
” Indeterminisme, yaitu aliran yang berpendirian bahwa kemauan manusia itu   bebas dalam arti yang seluas-luasnya.

b. Aliran-aliran etika
Aliran-aliran penting dalam etika banyak sekali, diantaranya ialah:
1)      Aliran etika nuturalisme, yaitu aliran yang beranggapan bahwa     kebahagiaan manusia itu diperoleh dengan menurutkan panggilan natural    (fitrah) kejadian manusia sekali.
2)      Aliran etika hedonisme, yaitu aliran yang berpendapat bahwa perbuatan     susila itu ialah perbuatan yang menimbulkan ‘hedone’ (kenikmatan dan    kelezatan).
3)      Aliran etika utilitarianisme, yaitu aliran yang menilai baik dan    buruknya perbuatan manusia ditinjau dari kecil dan besarnya manfaat bagi    manusia (utility = manfaat).
4)      Aliran etika idealisme, yaitu aliran yang menilai baik buruknya    perbuatan manusia janganlah terikat pada sebab-musabab lahir, tetapi    haruslah didasarkan atas prinsip kerohanian (idea) yang lebih tinggi.
5)      Aliran etika vitalisme, yaitu aliran yang menilai baik-buruknya    perbuatan manusia itu sebagai ukuran ada atau tidak adanya daya hidup    (vital) yang maksimum mengendalikan perbuatan itu.
6)      Aliran etika theologis, yaitu aliran yang berkeyakinan bahwa ukuran    baik dan buruknya perbuatan manusia itu dinilai dengan sesuai atau tidak    sesuainya dengan perintah Tuhan (Theos = Tuhan).

c. Aliran-aliran teori pengetahuan
Aliran ini mencoba menjawab pertanyaan, bagaimana manusia mendapat pengetahuannya sehingga pengetahuan itu benar dan berlaku.

Senin, 27 Juni 2011

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SDM DALAM PENGELOLAAN SDM BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI

PENINGKATAN PRODUKTIVITAS SDM DALAM PENGELOLAAN SDM BERBASIS TEKNOLOGI INFORMASI


BAB l
PENDAHULUAN

Dalam era globalisasi dunia menjadi seolah tanpa batas (boundaryless) yang ditandai dengan munculnya perdagangan bebas (free trade) antar pelaku ekonomi global. Implikasinya adalah kondisi pasar menjadi semakin kompetitif, tingginya tuntutan pelanggan khususnya berkaitan dengan kualitas produk dan ketepatan logistik, pemenuhan hak paten, faktor lingkungan, product life cycle yang kian pendek dilihat dari dimensi waktu, dan inovasi produk yang harus memiliki kecenderungan (trend) meningkat.
Globalisasi ekonomi dan sistem pasar dunia menempatkan semua negara termasuk Indonesia sebagai bagian dari sistem tersebut. Hal ini menyiratkan sebuah pesan bahwa agar dapat eksis di tengah persaingan semua negara tanpa kecuali harus meningkatkan efisiensi proses pemanfaatan sumber daya yang jumlahnya sangat terbatas guna menghasilkan produk pada taraf paling optimal. Demikian pula halnya dengan Indonesia dituntut untuk benar-benar menyiapkan dirinya dalam menghadapi kompetisi di tingkat dunia guna dapat meraih keunggulan bersaing (competitivenessadvantage). 
Dalam menghadapi persaingan yang begitu bebas dan ketat itu, sudah saatnya bangsa Indonesia harus bangkit dan menyusun rencana strategi pengembangan SDM. Arah pengembangan tersebut adalah terciptanya SDM yang berkualitas dan profesional sehingga siap dan mampu bersaing di era globalisasi, khususnya untuk menghadapi era pasar bebas. Hasil akhir yang diharapkan tentunya adalah memperbaiki kondisi dan posisi Indonesia untuk dapat sejajar dengan bangsa-bangsa lain. 





BAB ll
PEMBAHASAN

Dalam melaksanakan kebijakan Manajemen Karir tersebut, Direksi PT. TELKOM DIVRE V menganut prinsip Keadilan dan Prestasi (Equity and Merit) sehingga perusahaan menjamin bahwa lebih banyak pegawai memperoleh jalan secara terbuka dan adil untuk menduduki posisi sesuai dengan skill dan kompetensinya.
 Setiap pegawai dapat menentukan pilihan karirnya berdasarkan skill yang dimilikinya. Keadaan ini memacu setiap individu untuk mengembangkan potensi dirinya dengan harapan mendapatkan jenjang karir yang lebih tinggi. Sebagai konsekuensinya, perusahaan juga harus secara terbuka dan adil untuk meningkatkan karir individu yang telah berprestasi tersebut. 
Permasalahan timbul setelah semakin banyak individu/karyawan PT.TELKOM yang mengembangkan potensi dirinya, baik dengan meningkatkan pendidikan formalnya maupun dengan mengikuti pelatihan-pelatihan yang sesuai dengan skill dan kompetensinya. Sementara itu, pola karir pegawai di PT. TELKOM berpijak pada hirarki piramid, dimana level bawah (staff) dengan jumlah individu terbanyak dan semakin ke atas levelnya (middle manager dan top manager) semakin sedikit jumlah individu yang dibutuhkan.
Namun pada kenyataannya, komposisi rentang kendali SDM di PT. TELKOM tersebut tidak berdasar pada band individu melainkan disesuaikan dengan struktur organisasi, yaitu pada jalur struktural, sedangkan komposisi band individu tersebut di atas meliputi jalur struktural dan jalur fungsional. Keadaan ini tidak sesuai dengan teori yang dikemukakan oleh Robbin dan Coulter (1999) di atas, yaitu konsep rentang kendali menentukan jumlah tingkatan dan jumlah manajer yang dimiliki sebuah organisasi. Jika demikian, maka ditinjau dari rentang kendali organisasi/perusahaan PT. TELKOM belumlah efektif dan efisien.
Di sisi lain komposisi jumlah SDM PT. TELKOM Divre V berdasarkan band individu tersebut mengakibatkan terjadinya penggelembungan jumlah SDM pada band individu III, IV, V, dan VI, keadaan ini tidak sesuai lagi dengan hirarki piramid yang dianut oleh PT. TELKOM Divre V Jawa Timur. Penggelembungan ini juga disebabkan karena adanya perubahan struktur organisasi dan bentuk organisasi dari Perusahaan Umum (Perum) menjadi Perusahaan Perseroan (Persero) serta adanya perubahan teknologi dari manual ke komputerisasi.

Dalam merespon dan mengantisipasi kondisi bisnis ke depan, PT.TELKOM Indonesia telah melakukan reformulasi visi perusahaan menjadi “To Become Leading Infocom Company in The Region”.
 Sedangkan misi perusahaan yang ditetapkan adalah “1) Memberikan layanan “One Step Infocom” dengan kualitas yang prima dan harga kompetitif. 2) Mengelola usaha melalui cara yang terbaik dengan mengoptimalkan Sumber Daya Manusia (SDM) yang unggul, teknologi yang kompetitif serta bisnis partner yang sinergi”.
 Tercapainya visi dan misi perusahaan berkenaan dengan reposisi bisnis PT. TELKOM dimana akhirnya tergantung pada bagaimana perusahaan mampu membangun “organizational capability” untuk menjalankan strategi yang ditetapkan. 
Dari sisi SDM, pembangunan “organizational capability” ini dilakukan melalui peningkatan kompetensi SDM dengan fokus pada pengembangan sikap dan perilaku serta keterampilan dan pengetahuan unggulan yang sangat diperlukan untuk pencapaian visi, misi dan strategi perusahaan. SDM PT. TELKOM diharapkan memiliki kemampuan mengantisipasi persaingan (competitive competences), kemampuan profesional yang tinggi, proaktif, adaptif, inovatif, disiplin, berintegritas tinggi, semangat pengabdian, jujur, berwawasan bisnis, dan mampu menyesuaikan diri terhadap kemajuan teknologi dan persaingan bisnis. Dengan demikian SDM di PT. TELKOM harus memiliki keunggulan kompetitif yang berkesinambungan (sustainable competitive advantage).
Upayakan pengembangan SDM dilaksanakan PT. TELKOM melalui enam tahapan proses manajemen SDM, yaitu (a) Perencanaan SDM, (b) Iklim organisasi, (c) Sistem imbal jasa dan penghargaan, (d) Rekrutasi, seleksi, dan penempatan, (e) Pengembangan karir, dan (f) manajemen kinerja. Ke enam proses Manajemen SDM tersebut menyajikan strategi-strategi pengelolaan SDM dan model-model sistem pengelolaan SDM yang dijadikan model dan pedoman agar dapat memberikan kontribusi besar dalam pencapaian tujuan strategis TELKOM.
Salah satu dari keenam proses Manajemen SDM tersebut adalah proses pengembangan karir. Proses pengembangan karir merupakan hal yang sangat penting dalam menunjang kesuksesan bisnis PT. TELKOM. Pengembangan karir akan membuat perusahaan dan pegawai dapat mencapai suatu kesepakatan mengenai kompetensi, pelatihan dan pengembangan serta jenjang dan jalur karir yang sesuai untuk mencapai tujuan, baik tujuan perusahaan maupun tujuan pribadi pegawai dalam bentuk kemitraan. Pengembangan karir yang efektif akan menghasilkan suatu lingkungan yang saling mempercayai, pemberdayaan yang efektif dan komitmen terhadap visi, misi serta tujuan strategis.Untuk mengatur pelaksanaan pengembangan karir pegawai di lingkungan PT. TELKOM Divre V Jatim yang sesuai dengan visi dan misi perusahaan, maka secara operasional Direksi Perusahaan Perseroan (Persero) PT. TELKOM Indonesia Tbk menerbitkan SK. Nomor KD.21/PS180/SDM-12/98, tanggal 11 September 1998 tentang Pola Karir Pegawai.
Dokumen Pola Karir Pegawai terdiri atas 86 pasal tentang aturan pengembangan pola karir pegawai di lingkungan PT. TELKOM. Dalam pasal 63 ayat 1 disebutkan tentang mekanisme promosi dan kenaikan tingkat (grade) yang dilaksanakan secara transparan melalui dukungan sistem informasi manajemen SDM yang efektif. Pada ayat 2 disebutkan bahwa jenjang karir maksimum pegawai pada tingkat spesialis/manajerial yang ditetapkan berdasarkan tingkat pendidikan, dan ayat 3 tentang penunjukan pegawai yang dinilai mempunyai potensi tinggi untuk memangku suatu jabatan. 
Dalam melaksanakan kebijakan Manajemen Karir tersebut, Direksi PT. TELKOM DIVRE V menganut prinsip Keadilan dan Prestasi (Equity and Merit) sehingga perusahaan menjamin bahwa lebih banyak pegawai memperoleh jalan secara terbuka dan adil untuk menduduki posisi sesuai dengan skill dan kompetensinya. Setiap pegawai dapat menentukan pilihan karirnya berdasarkan skill yang dimilikinya. Keadaan ini memacu setiap individu untuk mengembangkan potensi dirinya dengan harapan mendapatkan jenjang karir yang lebih tinggi. Sebagai konsekuensinya, perusahaan juga harus secara terbuka dan adil untuk meningkatkan karir individu yang telah berprestasi tersebut. 
Proses lainnya, misalnya seleksi dan penempatan, evaluasi pekerjaan, imbal jasa dan pengelolaan kinerja mempunyai dampak dan kontribusi terhadap pengembangan karir. Hal yang penting diperhatikan adalah pengembangan karir yang efektif merupakan suatu proses yang hidup dan suatu proses yang berkembang dan berubah mengikuti organisasi yang semakin fleksibel. Pengembangan karir bukanlah sesuatu yang statis dan tetap, dan oleh karena itu harus dikaji secara kontinyu dan dikembangkan terus-menerus. 
PT. TELKOM mencanangkan pengelolaan Karir Pegawai berbasis kompetensi, yang dikembangkan berdasarkan kemitraan partisipatif antara pegawai, manajer lini dan perusahaan yang dilakukan dengan pendekatan :
a. Pegawai merencanakan karir yang hendak dicapainya pada masa yang akan datang dengan diikuti pengembangan kompetensi sesuai dengan persyaratan jabatan/pekerjaan (job requirement) yang hendak dicapainya.
b. Manajer lini berperan dalam membimbing, mengarahkan dan membina pegawai dalam mengembangkan kompetensinya sehingga mampu menjadi kader yang professional.
c. Perusahaan berperan dalam menyediakan fasilitas pengembangan kompetensi dan karir pegawai sesuai prinsip-prinsip manajemen SDM, seperti (1) persyaratan jabatan/pekerjaan (job requirement), (2) jenjang dan jalur karir, (3) pengembangan kompetensi pegawai, (4) pengelolaan kinerja pegawai, (5) konseling pengembangan karir, (6) assessment dan evaluasi, dan (7) sistem informasi manajemen SDM (HRMIS).
BAB lll
KESIMPULAN DAN SARAN


Dalam menghadapi persaingan di era globalisasi tersebut strategi yang perlu ditempuh oleh akademisi dan pelaku bisnis ialah pengembangan SDM. Arah pengembangan SDM tersebut ialah terciptanya SDM yang berkualitas dan profesional sehingga mampu bersaing dalam menghadapi era pasar bebas. Berkait dengan itu, dalam rangka melayani transformasi yang begitu cepat dan akurat guna memenuhi tuntutan akan kebutuhan informasi sains, teknologi, ekonomi, dan bisnis, maka PT. Telekomunikasi sebagai BUMN yang strategis mengakses tuntutan tersebut untuk memenuhi kepuasan layanan para pelanggannya. 
Dengan demikian, SDM PT. Telkom diharapkan memiliki kemampuan mengantisipasi persaingan (competitive competencies), kemampuan profesional yang tinggi, proaktif, adaptif, inovatif, disiplin, berintegrasi tinggi, jujur, berwawasan bisnis, dan mampu menyesuaikan diri terhadap kemajuan sains,teknologi, dan persaingan bisnis.